MENJADI PEREMPUAN
Katanya setara, tetapi masih merana.
Sejak kecil, anak perempuan sudah diajari cara melakukan pekerjaan
rumah. Anak perempuan yang tidak bisa mengurus urusan rumah tangga akan
dianggap kurang kompeten. Nilai seorang perempuan hanya terbatas pada
kemampuannya merapikan rumah, membersihkan pakaian dan barang-barang kotor, serta
memasak. Bahkan, saat mereka mulai tumbuh dewasa dan siap menentukan hidupnya,
mimpi-mimpi dan rencana masa depan mereka seakan dianggap percuma karena pada
akhirnya dia hanya akan diam di rumah dan bermain rumah-rumahan dengan suami
dan anak-anaknya nanti.
Saat ini, berkat kesetaraan, memang sudah banyak perempuan yang berkarir
dan bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Tidak lagi terkurung asumsi
kebanyakan orang tentang formula menjadi perempuan yang seharusnya. Mereka
sudah keluar dari tudung sempit yang dulu melingkupi. Hanya saja, belum sadar
dengan tudung yang lebih besar dan masih menutupi kebebasannya. Tenang, tudung
itu sangat besar sampai-sampai mereka tak sadar berada di dalamnya.
Sebagai perempuan, kita pasti masih ingat bagaimana para Ibu mengomeli
kita saat kita melakukan kesalahan. Para ibu selalu memulai omelannya dengan,
“Anak perempuan kok….” Contohnya, “Anak perempuan kok jorok sekali,” “Anak
perempuan kok masakannya nggak enak,” “Anak perempuan kok bau badan,” *ups.
Seakan menjadi manusia saja tidak cukup, karena kita perempuan. Tidak cukup
menjadi manusia yang baik kalau belum menjadi perempuan yang utuh, yang
seharusnya tidak jorok, jago memasak, dan tidak bau badan (?) seperti ibu kita
yang juga seorang perempuan.
Saat mulai dewasa, kita mulai khawatir tentang pandangan perempuan-perempuan
lainnya. Di usia 25 tahun kita bahagia dengan pilihan karier kita, bersenang-senang
dengan pekerjaan dan teman-teman di kantor, tetapi dianggap kesepian karena
tidak berkencan. Beberapa teman perempuan lain mulai pamer kehidupan rumah
tangganya dan penambahan anggota keluarga barunya yang mungil. Beberapa dari
mereka mulai bijak menasihati, “Jangan terlalu sibuk kerja, coba pergi cari
jodoh.” Padahal, kita yakin 100% kalau kita baik-baik saja, bahkan cinta kita
pada diri sendiri saja sudah lebih dari cukup memenuhi hati kita. Lagi-lagi,
menjadi seseorang yang sukses dan bahagia saja tidak cukup, karena perempuan
dianggap beruntung jika bisa menikah dan memiliki keturunan.
Setelah menikah, ibu pasangan kita mulai mendikte tentang cara menjadi
istri yang baik (atau menjadi pelayan terbaik untuk anaknya). Tudung besar yang
mulanya samar, kini mulai tampak. Dia menunjukkan posisi kita. Pada masa ini,
kita menjadi perempuan ketika sadar tentang konsep: istri adalah milik
suaminya, dan suami adalah milik ibunya. Artinya, tidak cukup menjadi istri
yang baik, jika belum menjadi menantu yang baik. Kita dilarang kesal pada fakta
ini, karena nanti pun kita akan menjadi ibu yang memiliki hak penuh atas suami
dari menantu kita kelak. Walau hal ini terdengar tidak adil untuk mereka yang mungkin
tidak bisa memiliki keturunan.
Kita, perempuan, kesal dengan kurungan yang menghambat kebebasan kita saat ini. Namun, kita juga, para perempuan, yang kelak ikut serta membatasi kebebasan-kebebasan perempuan lainnya. Apakah menjadi perempuan berarti membuat perempuan lain sengsara?

Comments
Post a Comment