FORMULA HIDUP TENANG

Tahun baru, resolusi baru, kecemasan baru.

            Merasa cemas adalah sesuatu yang wajar, bahkan umum dialami oleh banyak anak muda saat ini. Mencemaskan banyak hal rasanya sulit dihindari karena setiap hari kita terpapar dengan sumber penyebab kecemasan tersebut: media sosial. Jenis kecemasan yang disebabkan oleh media sosial ini adalah kecemasan sosial.
            Banyak sekali hal yang sering membuat kita cemas, mulai dari gaji bulanan yang selalu habis lebih dulu sebelum tanggal gajian berikutnya, keinginan resign, tapi khawatir sulit mendapatkan pekerjaan baru, usia yang semakin bertambah tua, tapi masih belum memiliki pacar, bertahun-tahun menonton kesuksesan teman, sementara mimpi-mimpi sendiri tidak kunjung terwujud, atau bahkan kekhawatiran diselingkuhi oleh pasangan, digunjingkan teman, dan diremehkan atasan.
            Setiap hari, kecemasan-kecemasan itu terus menerus diproduksi otak. Kita tidak bisa menghentikannya. Sebaliknya, otak malah semakin banyak memproduksi kecemasan. Contohnya, kita mencemaskan nilai buruk yang kemungkinan akan didapatkan pada ujian kali ini karena rasanya ada banyak sekali soal yang tidak kita ketahui jawabannya. Lalu, kita tidak tahu harus berbuat apa. Jelas, tidak mungkin mengulang waktu dan kembali ke saat-saat sedang melaksanakan ujian. Akhirnya, kita memaksakan diri untuk tenang, karena sadar cemas tidak bisa menyelesaikan masalah. Namun, ternyata kita tidak otomatis menjadi tenang, sehingga saat ini kita mulai mencemaskan diri yang tidak bisa berhenti cemas
            Kabar baiknya, saat ini sudah semakin banyak orang menyadari tentang kecemasan yang dilami oleh generasi milenial, bahkan generasi milenial itu sendiri. Dampaknya, ada banyak produk yang dijual untuk membantu mereka meredakan kecemasannya. Mulai dari obat-obatan, mainan, sampai yang paling tidak terlihat seperti media pereda kecemasan: buku.
            Mulai banyak buku self-help yang berisi konten mengenai berdamai dengan perasaan negatif (tidak harus selalu berpikir positif) atau tetap bahagia walau tidak merasa sukses. Kita yang selama ini mencemaskan masa depan seakan tertolong oleh pesan-pesan yang dimuat dalam buku-buku itu. Kita bisa bernafas lebih tenang, setidaknya sebelum postingan baru seorang teman dengan balutan kesuksesannya muncul di lini masa Instagram. Namun, jika kita sungguh-sungguh mempelajari apa yang dijelaskan dalam buku-buku self-help itu dan mulai mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari, postingan itu tentu tidak akan mengganggu kita lagi. Karena, daripada cemas membandingkan diri dengan orang lain, kita bisa lebih tenang membandingkan perubahan baik yang dilakukan diri setiap tahunnya. Tidak apa-apa, walau kita bukan apa-apa.
            Lawan dari kecemasan adalah ketenangan. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulai kehidupan yang tenang ini. Manampiring (2018) mengajak Generasi Milenial dan Generasi Z untuk mempraktkan fFlosofi Stoa agar bisa menangkal pikiran negatif dan berhenti mengkhawatirkan banyak hal. Sementara, Manson (2016) mengenalkan konsep “Bodo Amat” terhadap hal-hal yang tidak kita sukai, tetapi tidak bisa dihindari. Konsepnnya mengarahkan pembaca agar hanya fokus menjalani hidup (yang telah, sedang, atau akan kita jalani), bodo amat dengan yang lainnya. Selain itu, ada juga konsep tentang menerima kecemasan, alih-alih menangkal dan menghindarinya yang dikenalkan oleh Cushnir (2009).
            Mengacu pada tulisan Cushnir tersebut, aku kemudian menyimpulkan bahwa proses menjadi orang yang tidak mudah cemas dan selalu bersikap tenang dalam menghadapi berbagai situasi sangat sederhana. fondasi utamanya hanya penerimaan (acceptance). Mudah, bukan? Namun, pada praktiknya sedikit lebih sulit. Mulanya kita memang terbiasa menerima segala hal sebagaimana hal itu adanya. Contohnya, saat melihat anjing, kita menerima kalau yang kita lihat adalah anjing, bukan burung. Kemudian penilaian kita berubah ketika kita mulai dihadapkan dengan situasi yang lebih kompleks. Kita mulai tidak menerima banyak hal, seperti wajah yang kurang cantik, kondisi finansial yang lemah, lingkungan pertemanan yang tidak baik, sistem pendidikan yang membosankan, bahkan sampai didikan orang tua kita yang kita anggap salah. Kita mulai mengeluhkan berbagai hal. Dampaknya, kita mulai mencemaskan hal-hal itu dan kesulitan untuk hidup dengan tenang.
            Menerima berarti secara sadar membenarkan semua pengalaman dan kejadian yang sudah atau sedang dialami. It is what it is, until it’s not (Cushnir, 2009). Terkadang, menerima memang sangat sulit dan menyusahkan. Terkadang, daripada menerima kenyataan yang menyakitkan, kita lebih sering memilih untuk melarikan diri dan memaksa diri untuk melupakan kenyataan tersebut. Padahal, kenyataan tetap kenyataan. Tidak berarti hilang, sekalipun hilang dari ingatan kita.
            Setidaknya, ada 5 langkah mudah yang bisa dilakukan untuk belajar menerima, yaitu:

1.       “Yes!”

            Proses penerimaan dimulai saat kita mengiyakan kebenaran, pengalaman, kejadian, atau kenyataan yang sedang kita alami. Dengan mengatakan “Ya” pada situasi tersebut, kita mengarahkan diri untuk sadar terhadap situasi yang sedang kita alami. 
  • Saat ini, aku sedih karena gagal, – “Ya, aku sedang sedih."
  • Saat ini, aku kecewa karena diselingkuhi, – “Ya, aku sedang kecewa”
  • Saat ini, aku marah karena seseorang mempermainkanku, – “Ya, aku sedang marah”
  • Seleksi masuk perusahaan besar sangat rumit dan ketat, “Ya”
  • Ujian masuk perguruan tinggi tahun ini lebih susah, “Ya”
            Bahkan, saat kondisi sulit pun kita harus tetap menerimanya dan mengatakan “Ya”. Sehingga, kita tidak terjebak dalam toxic positivity, keadaan di mana kita menipu diri bahwa kita baik-baik saja, walau sebenarnya tidak.

2.       Attention

            Setelah menerima sepenuhnya tentang apa yang dirasakan diri, selanjutnya kita perlu memperhatikan perasaan-perasaan itu. Contohnya, saat sedih, kita tidak perlu memaksa diri untuk bahagia. Kita berhak memiliki waktu untuk sedih. Lalu, memperhatikan diri dengan baik dan sedikit demi sedikit mengobati kesedihan itu. Dengan merasakan kesedihan dan memperhatikannya, kita jadi bisa lebih mengenal diri. Kita mulai sadar tentang hal yang bisa membuat kita sedih dan mulai belajar cara mengobatinya.
            Sebagai analogi, Cushnir (2009) dalam berselancar, ada peselancar berdiri di atas papan selancarnya dan ombak yang membuat peselancar tersebut bisa berdiri dengan seimbang di atas papannya. Agar berhasil, peselancar dan ombak harus terus seimbang, jika tidak, peselancar bisa tenggelam tertelan ombak.
            Dalam konteks ini, ombak adalah pengalaman/kejadian/situasi/kenyataan, sementara peselancarnya adalah perhatian kita. Tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk mengubah atau menghindari sesuatu, tetapi kita bisa mengarahkan perhatian kita.

3.       Freedom

            Pada tahap ini, kita benar-benar sadar bahwa menghindari ombak-ombak tersebut tidak bisa membuat kita tetap aman. Karena pada dasarnya, tidak ada yang perlu kita hindari atau kalahkan. Kita terbebas dari pikiran-pikiran untuk membuat diri tetap merasa aman. Kita memang sudah berada di tempat yang aman. Hal-hal yang terjadi di sekitar kita, tidak lagi membuat kita merasa cemas, sampai harus melarikan diri darinya.

4.       No Negative Thoughts

            Setiap saat berbagai ide/pikiran muncul di benak kita. Bahkan, pikiran-pikiran itu tetap muncul walau kita tidak berusaha memikirkannya, seperti dalam mimpi, saat mandi, atau bahkan saat pikiran kita kosong. Dari banyaknya pikiran itu, yang benar-benar kita eksekusi biasanya hanya yang berkaitan dengan kreativitas atau penyelesaian masalah.
            Kaitannya pemikiran yang muncul dengan ketenangan adalah karena saat pemikiran-pemikiran itu muncul, terkadang kita tidak menyukainya atau tidak menerimanya. Sebaliknya, kita justru berusaha memeranginya dan akhirnya kehilangan ketenangan. Terutama pemikiran-pemikiran negatif yang biasanya muncul sebagai respon otak saat berusaha menyelesaikan masalah, seperti saat menerima kritikan. Walau nyatanya kritikan itu benar, kita tidak senang mendengarnya. Lalu, pemikiran negatif tentang diri sendiri mulai bermunculan di otak dan tidak jarang juga pemikiran negatif tentang apa yang ingin kita lakukan pada si pengkritik.
  • Pemikiran negatif pada diri: menyalahkan keadaan, membenci diri.
  • Pemikiran negatif pada si pengkritik: mencari kelemahannya agar bisa balas mengkritiknya, mengumpatnya, membicarakannya dengan orang lain yang juga tidak menyukainya.
            Pemikiran negatif ini dipengaruhi oleh emosi yang kita miliki. Karena, saat pemikiran negatif muncul, emosi negatif pun secara otomatis terlibat membuat keputusan.
            Emosi adalah mekanisme umpan balik yang mengatakan kepada kita apakah sesuatu itu sepertinya benar atau salah untuk kita… emosi negatif adalah suatu panggilan untuk bertindak. Ketika anda merasakannya, itu karena anda seharusnya melakukan sesuatu... Namun, ada orang-orang yang mengenali emosi secara berlebihlebihan. Semua hal dibenarkan hanya berdasar pada apa yang mereka rasakan… pengambilan keputusan berdasrkan intuisi emosional, tanpa dibantu penalaran agar tetap pada jalurnya, biasanya membuat sesak di akhir (Manson, 2016: 39-40).
            Selama pikiran negatif tentang diri bersarang di benak kita, selama itu juga kita terus merasa cemas karena menyalahkan dan mengasihani diri. Lalu, ketika pikiran negatif pada si pengkritik terus kita biarkan hidup dan kita realisasikan dalam keadaan sebenarnya, masalah lain yang akan membuat kita cemas akan muncul. Kamudian, hal itu terus berputar bergiliran.
            Lalu, apa maksudnya kita harus terus berpikir positif? Ya. Namun, yang ini berbeda dengan toxic positivity. Kita terlahir sebagai makhluk pemilih. Dari ribuan informasi, jenis makanan, atau manusia, kita hanya memilih sebagian yang benar-benar kita inginkan. Maka, seharusnya mudah untuk kita memilih pikiran mana yang ingin kita biarkan dan mana yang harus kita hentikan.
            Ketika seseorang mengkritiki kita dan kita setuju kalau apa yang disampaikan orang itu benar, pertama kita harus menerimanya. It is what it is. Dengan menerima, kita bisa mulai memperhatikan bagian yang dikritiki tersebut dan berkesempatan membuatnya menjadi lebih baik. Kedua, bukankah seharusnya kita berterima kasih pada si pengkritik? Alih-alih mengumpatinya dalam hati.
            Kalaupun kritikan itu tidak benar, kita tinggal mengatakan saja kalau apa yang dia kritiki itu tidak benar. Namun, cara kita mengatakannya akan berpengaruh pada masalah apa yang akan kita hadapi selanjutnya. Jika kita melibatkan emosi negatif dalam pikiran kita, kita bisa sangat marah dan berbalik mengkritikinya, baik secara langsung atau dibelakangnya. Sebaliknya, jika kita tidak membiarkan pikiran negatif itu menguasain kita, kita bisa tetap diam dengan tenang. Toh, apapun yang disampaikan si pengkritik tidak akan mengubah kenyataan. Sekali lagi, it is what it is.

5.       “All is well”

             Bab terakhir yang menjadi penutup buku Manson, The Subtle Art of Not Giving a F*ck, adalah "... And Then You Die." Hal ini sering kita dengar sejak kita masih kecil. Para orang tua selalu mengingatkan kalau kita tidak diciptakan untuk selamanya menempati bumi. Kehidupan yang sebenarnya bukan di sini, tetapi di alam lain yang tidak seorang pun yang masih hidup pernah singah di sana.
            Mengetahui hal mendasar seperti ini seharusnya cukup membuat kita sadar bahwa semua yang terjadi pada diri kita di bumi ini bukan apa-apa. Kegagalan, kehilangan, makian, semua masalah-masalah yang kita hadapi di bumi hadir untuk kita lalui dan kita jadikan pelajaran. Pada akhirnya, masalah-masalah yang kita hadapi akan berlalu dan berganti. Saat selesai menghadapi suatu masalah, kita tetap baik-baik saja. Kita justru bersiap menghadapi masalah-masalah selanjutnya.
            Hal yang membuat kita tidak baik-baik saja adalah saat kita menghadapi kematian. Karena setelah mati, bukan masalah di bumi ini yang akan kita hadapi. Artinya, di bumi ini tidak ada yang benar-benar perlu kita takuti, selain kematian. Kita akan tetap baik-baik saja, sebelum kita mati.
            Menurut Manson (2016), mengingatkan diri pada kematian dan menerima bahwa pada akhirnya hal itu akan terjadi membuat kita lebih mudah menguraikan kecanduan, mengidentifikasi, dan menghadapi diri yang merasa berhak atas ini dan itu, bertanggung jawab terhadap masalah, menerima kegagalan, dan memeluk penolakan.
            Selain itu, dengan meyakini adanya kehidupan lain dan masalah lain yang akan kita hadapi, kita akan terdorong untuk menjalani kehidupan yang baik. Sehingga, dalam situasi apa pun, kita cenderung memilih sikap terbaik dan terbijak agar tidak menimbulkan masalah di kehidupan lain tersebut. Karena, kita sadar hukum penyelesaian masalah di dunia ini dan dunia setelah kematian itu berbeda, bukan?

            Kelima langkah di atas terasa sangat sederhana, tapi cukup sulit untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi konsisten mengaplikasikannya, pasti butuh banyak penyesuaian di awal. Namun, bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Kita bisa memulainya dengan menerima dan memperhatikan setiap keadaan atau perasaan yang sedang kita alami. Berhenti menghindari masalah atau melupakan perasaan-perasaan yang dibawanya tanpa kita pernah berdamai terlebih dahulu dengan perasan-perasaan itu. Selamat mencoba dan selamat memulai kehidupan yang lebih tenang.
__________________________________
Referensi:
  • Cushnir, R. (2009). Surfing Your Inner Sea: essential lessons for lasting serenity. San Francisco: Chronicle Books.
  • Manson, M. (2016). The Subtle Art of Not Giving a F*ck. New York: HarperOne. Manampiring, H. (2018).
  • Filosofi Teras: filsafat Yunani-Romawi kuno untuk mental tangguh masa kini. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.



Comments